Asas-asas Pembinaan Kerukunan Masyarakat Dzikrullah

Nilai-nilai yang dianut Masyarakat

Dalam kehidupan sosial terdapat bermacam-macam nilai (values) yakni hal-hal yang dianggap penting, bermakna, berharga, benar, dan dijunjung tinggi masyarakat serta tak jarang dijadikan pedoman kehidupan warga masyarakat itu. Misalnya: kerukunan, kerja keras, kekayaan, adat-istiadat, kehormatan, harga diri, persaudaraan, kejujuran, keberanian, agama dan pengetahuan. Perlu diketahui bahwa nilai-nilai hidup itu tidak kasatmata (invisible) tetapi terungkap dan dapat disimpulkan dari berbagai indikator seperti: pokok-pokok pembicaraan tokoh-tokoh masyarakat, kecenderungan bertindak dan menyelesaikan masalah, apa yang membuat masyarakat senang dan apa yang membuat mereka malu, tersinggung dan hal-hal yang menimbulkan reaksi keras mereka.

Bahkan dongeng-dongeng tradisional yang populer pun tak jarang di dalamnya terkandung nilai-nilai hidup yang dianut masyarakat. Mengetahui nilai-nilai yang dianut masyarakat sangat penting untuk memahami sikap, perilaku, pandangan, keinginan, dan hal-hal yang diterima dan ditolak oleh masyarakat setempat. Semuanya penting dalam melakukan pendekatan yang tepat untuk membina kerukunan dan kerjasama dengan lingkungan sekitarnya.

Kebutuhan utama Masyarakat

Mengetahui kebutuhan-kebutuhan utama masyarakat -khususnya kebutuhan pokok- sangat penting, karena berkaitan erat dengan upaya menjalin kerjasama dan memotivasi masyarakat untuk bergerak aktif mencapai kemajuan. Mengabaikan hal itu akan menghambat hubungan baik dengan masyarakat. Dinamisasi masyarakat terjadi bila ada motivasi untuk mengubah kondisi dan taraf kehidupan saat ini menjadi lebih baik. Dalam hal ini psikologi dapat menunjukkan berbagai kebutuhan utama manusia pada umumnya. Misalnya, teori kebutuhan-kebutuhan dasar berjenjang dari A.H. Maslow perlu dipahami untuk memotiva si pengembangan masyarakat sekitarnya.

Hal-hal peka dalam Masyarakat

Selain mengetahui kebutuhan utama masyarakat sekitarnya, pihak surau pun perlu mengetahui apa yang sensitif bagi masyarakat yakni hal-hal yang mudah sekali menimbulkan keresahan dan reaksi keras masyarakat bila dilanggar atau diremehkan. Sebaliknya bila hal-hal itu diindahkan akan memperlancar hubungan baik, sekurang-kurangnya tidak akan menimbulkan keresahan. Hal-hal sensitif ini biasanya berlainan untuk setiap kelompok sosial-budaya, karena biasanya berkaitan dengan apa yang dinilai baik atau buruk oleh masyarakat setempat. Ada sepuluh hal yang biasanya dianggap sensitif bagi masyarakat yang terumus dalam ungkapan AWAS PAMALI sebagai singkatan dari:

A = Adat istiadat
W = Wanita
A = Agama
S = Sandang-pangan-papan

P = Pemimpin setempat
A = Anak-anak muda
M = M5 (Main judi, Mabuk, Maling, Menyeleweng, Mengaiaya)
A = Amanah
L = Lahan
I = Iseng-iseng

Kalau kita perhatikan, diantara kesepuluh butir itu ada empat hal yang sangat sensitif dan mudah sekali menimbulkan reaksi keras masyarakat apabila dilanggar yaitu AWAS (Adat-istiadat, Wanita, Agama, dan Sandang-pangan-papan). Selain itu ada dua pihak yang perlu dibina kerjasama dengan mereka yaitu PA (Pemimpin setempat/formal & non-formal, dan Anak-anak muda). Kemudian ada sekelompok perbuatan tercela yang benar-benar terlarang yaitu M (Main judi, Mabuk, Maling, Menyeleweng, Menganiaya), tetapi sebaliknya A (Amanah atau kepercayaan) adalah satu hal yang justru harus benar-benar ditepati. Hal lain yang tidak boleh dipermainkan adalah L (Lahan atau pertanahan), karena saat ini pertanahan menjadi salah satu isyu sensitif di masyarakat kita. Dan terakhir I (Iseng-iseng): perbuatan sepele yang sering tanpa disengaja dapat menimbulkan sengketa dan masalah besar. “Bercanda jadi Bencana” kata peribahasa.

Hubungan Surau dengan Lingkungan Masyarakat sekitarnya

Setelah mengetahui nilai-nilai yang dianut, kebutuhan utama dan hal-hal peka pada masyarakat sekitarnya, selanjutnya perlu dibina kerukunan dan kerjasama antara pihak surau dengan warga masyarakat sekitarnya. Dalam hal ini mungkin dapat diterapkan Asas SABAR yaitu:
– Saling kunjung
– Akrab & bersahabat
– Bantu perbaiki sarana umum
– Amalkan budi pekerti
– Rangkul mereka masuk Tharikat.

Maksudnya, setelah terbina hubungan baik dengan masyarakat setempat perlu dilanjutkan dengan kegiatan dakwah mengenai thariqatullah kepada masyarakat sekelilingnya. Dakwah ini dapat berupa dakwah lisan (a.l. ceramah, diskusi, pengajian) dan dakwah tindakan (mis. berkunjung, memberi santunan) dengan selalu menampilkan perangai yang baik, etos kerja tinggi serta keteladanan budi pekerti. Dengan makin banyaknya warga sekitar yang masuk tharikat, maka kedudukan surau menjadi makin mantap di lingkungan masyarakat sekitarnya. Dan ini berarti surau telah memenuhi salah satu misi thariqatullah yaitu menanamkan dzikrullah pada pribadi-pribadi dan masyarakat.

MEMBINA KERUKUNAN

Membina kerukunan dengan warga masyarakat sekitarnya perlu diawali dengan meningatkan kerukunan dalam kelompok sendiri, bahkan sebaiknya dimulai dari diri sendiri. Prinsip psikologi yang menyatakan “Tak mungkin memotivasi orang lain, tanpa kita sendiri termotivasi” dapat dimodifikasi menjadi “Sulit membina kerukunan dengan masyarakat sekitar, kalau di lingkungan sendiri tidak ada kerukunan”. Asas “Mulai dari diri sendiri” mungkin dapat dijadikan motto dan langkah awal pembinaan kerukunan diantara sesama warga surau yang intinya tidak lain mengembangkan Ahlak terpuji dan meningkatkan Silaturahmi.

Di lingkungan pelatihan SDM sejauh ini telah dikembangkan berbagai metode dan pendekatan untuk pengembangan pr ibadi (personal growth) dan peningkatan kekompakan kelompok (team building) yang prinsip-prinsip dan metode-metodenya dapat dimanfaatkan dalam upaya pembinaan kerukunan kelompok.

ISLAMKU: Asas Pembinaan Kerukunan Masyarakat

Tanpa bermaksud mengurangi cara-cara yang selama ini telah berhasil membina kerukunan di lingkungan surau masing-masing, dalam tulisan ini diajukan asas-asas pembinaan kerukunan kelompok yang penulis sebut “ISLAMKU” sebagai singkatan dari: Ibadah, Silaturahmi, Lugas, Adaptasi, Musyawarah, Keteladanan dan Ubah nasib

I = Ibadah. Para pengurus dan warga surau perlu memantapkan niat dan menyadari bahwa membina hubungan baik dan mengajak masyarakat sekitarnya mengamalkan dzikrullah adalah amal bakti yang tinggi sekali nilai ibadahnya. Dalam artian psikologi niat identik dengan motif, dan motivasi merupakan unsur penting dalam meraih keberhasilan. Lebih-lebih lagi niat ibadah yang merupakan motivasi tertinggi dalam agama Islam. “Sesungguhnya amal-amal perbuatan tergantung niatnya”, demikian sabda Rasulullah SAW. Selain niat dan itikad beribadah, asas ini menganjurkan kepada para pengurus dan warga surau agar selalu meningkatkan kualitas ibadah mereka, dan juga selalu berdo’a memohon petunjuknya serta mendo’akan segala kebaikan bagi sesama warga surau dan masyarakat sekitarnya. Ibadah (dan doa) ini sangat penting mengingat mutlaknya rahmat Tuhan dalam menyatukan hati umat (S. al-Anfaal/8 : 63).

S = Silaturahm. Islam senantiasa menganjurkan umatnya untuk menjalin silaturahmi sebagai landasan kokoh hubungan sosial. Perintah dan tuntunan praktis untuk menjalin silaturahmi cukup banyak diungkapkan dalam al-Qur’an dan Hadits. Cara termudah yang dianjurkan antara lain dengan jalan mengucapkan salam, bertutur kata lembut, berwajah jernih, saling berjabat tangan (kalau mungkin), dan tersenyum tulus. Mengenai senyuman tulus yang dalam hadits dinilainya sebagai sedekah dan amal baik, secara khusus terungkap dalam sebuah peribahasa Cina: “Orang yang mahal senyum, jangan sekali-kali buka toko”. Artinya, tersenyum ramah tamah dan berwajah jernih membuka komunikasi, silaturahmi dan….rizki!

L = Lugas. “Lugas” adalah singkatan “luwes” dan “tegas” yang berarti sederhana, jujur, apa adanya saat mengungkapkan sesuatu, tetapi caranya tetap luwes (flexible). Ungkapan lugas berlainan benar dengan sindiran dan perkataan berputar-putar serta berbunga-bunga, atau ungkapan-ungkapan ”bergengsi” yang sarat dengan istilah-istilah ilmiah yang sulit dipahami dan sering menimbulkan salah paham. Cara bicara yang lugas biasanya menghindarkan salah tafsir dan salah paham. Salah satu prinsip komunikasi modern yang diakui daya-guna dan hasil gunanya tinggi adalah prinsip kesederhanaan (Principle of Simplification). Retorika Rasulullah SAW terkenal sederhana, lugas, mudah dipahami dan dihayati para pendengarnya. Siti ‘Aisyah r.a. mengungkapkan: “Susunan kata-kata Rasulullah tidaklah seperti susunan kata-kata kalian. Beliau bicara dengan perkataan yang terang dan jelas, serta mudah dihafal oleh siapa pun yang beliau hadapi”.

A = Adaptasi secara umum berarti menyesuaikan diri dengan orang lain atau dengan lingkungan tertentu. Dalam komunikasi tema, isi dan cara menyampaikan informasi perlu disesuaikan dengan alam pikiran, daya tangkap, bahasa, kepentingan, suasana dan kondisi penerima informasi. Maksudnya tidak lain supaya para penerima informasi merasa terlibat dan “tune-in” terhadap maksud dan arahan yang disampaikan. Prinsip ini penting untuk digunakan oleh para pengurus dan warga surau yang menghadapi aneka ragam corak kehidupan sesama warga. Lebih-lebih karena hal ini te rungkap dalam sabda Rasulullah SAW yang menganjurkan untuk berbicara sesuai dengan keadaan pribadi-pribadi dan kelompok masyarakat yang diajak bicara.

M = Musyawarah. Pentingnya musyawarah terbukti dari adanya surah Asy-Syuura dalam Al Qur’an yang artinya musyawarah. Dalam ayat 38 Surat Asy-Syuura ini dikatakan: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka”. Musyawarah adalah inti sari demokrasi yang saling menghargai pandangan masing-masing, sekalipun berbeda. Musyawarah adalah lawan dari sikap otoriter yang serba merasa benar sendiri dan cenderung memakskan pendapatnya pada orang lain. Musyawarah perlu dibiasakan untuk menyelesaikan urusan intern. Lebih-lebih dalam kegiatan kesurauan, musyawarah perlu dibiasakan. Misalnya dalam bentuk diskusi kelompok (group discussion) untuk tujuan sumbang-saran (brainstorming) dan pemecahan masalah (problem solving). Dalam musyawarah ini para pengurus dan warga surau diharapkan bersedia untuk saling menerima umpan balik (feedback). Sikap peka kritik dan mau menang sendiri tidak menunjang kerukunan kelompok.

K = Keteladanan. Para pengurus dan warga surau mempunyai peluang untuk menjadi panutan dan anutan masyarakat, sehingga salah satu tuntutan tugas mereka adalah harus mampu menjadi teladan masyarakat. Dalam Islam keteladanan ini merupakan hal yang sangat penting, karena Rasulullah SAW sendiri sebagai penyebar Rahmat Ilahi bagi semesta alam (Rahmatan lil’alamiin) adalah juga teladan terbaik bagi manusia sepanjang masa (Uswatun hasanah), karena pribadi beliau memancarkan kesempurnaan ahlak terpuji (Akhlaqul Karimah) yang merupakan ungkapan kesempurnaan al-Qur’an (Akhlaq al-Qur’an). Hal ini merupakan isyarat bahwa para pengurus dan warga surau harus menjadi teladan bagi dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat sekitarnya, seperti halnya Rasulullah SAW menjadi suri tauladan bagi seluruh umat.

U = Ubah nasib. Salah satu tujuan kelompok dzikrullah adalah menimbulkan kesadaran dan motivasi untuk secara mandiri meningkatkan kualitas dan taraf hidup. Hal ini sesuai dengan firman Alah SWT dalam surat ar-Ra’d ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. Ayat ini menunjukkan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang (dalam batas-batas tertentu) memiliki kebebasan berkehendak (freedom of will) untuk merealisasikan secara aktif potensi-potensi dirinya, serta mampu mengubah nasibnya sendiri selama mereka mau mengubahnya (the self determining being). Kesadaran ini harus senantiasa ditanamkan dalam kelompok pengamal dzikrullah, agar umat (Islam) tegak mandiri dan berjaya serta tidak tergantung pada (belas kasihan) orang lain.

Dari Kami ke Kita

Membina kerukunan kelompok masyarakat merupakan suatu proses dinamis yaitu mengupayakan terjadinya perubahan dari kondisi hubungan yang semula tidak rukun menjadi rukun. Kita sebut saja dari corak hubungan Kami menuju kondisi Kita. Hubungan Kami ditandai oleh adanya kekompakan kuat dalam kelompok sendiri menentang kelompok lain yang dianggap berseberangan.

Terbentuknya kelompok Kami biasanya diawali dengan adanya perbedaan (keyakinan, kepentingan, kebiasaan) yang berlarut-larut tak terselesaikan, kemudian mereka membentuk kelompok sepaham yang berseberangan dengan kelompok yang tidak sepaham. Jadi dalam kelompok Kami ini selalu ada potensi konflik (sengketa) antara kelompok sendiri dengan pihak lain. Dalam kelompok

Kami persengketaan telah sirna dan tak ada lagi pihak lain yang dianggap lawan. Kelompok ini ditandai dengan keakraban dan kerjasama yang baik diantara warga kelompok. Perubahan dar i hubungan Kami menuju Kami biasanya terjadi karena masing-masing memahami adanya tujuan bersama yang lebih baik bagi semua, disamping menyadari betapa merugikannya sengketa itu bagi mereka.

Rambu-rambu dalam pembinaan kerukunan kelompok
Perlu diingat bahwa kondisi Kami bisa berubah kembali menjadi Kami kalau tidak ditaati “rambu-rambu” tentang apa yang seharusnya dilakukan (the do’es) dan apa yang sebaiknya jangan dilakukan (the dont’s). Misalnya:

Hal-hal yang sebaiknya dilakukan

1. Ramah dan murah senyum serta berusaha menjadi orang yang disenangi.
2. Hargai jasa dan prestasi orang lain walaupun kecil dan sebarkan kebaikan
3. Berbesar hati terhadap perbedaan pendapat dan biasakan bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah
4. Penuhi undangan kegembiraan (tahniat) dan kunjungi orang mendapat musibah (takziah)
5. Biasakan mengucapkan “tiga kata bertuah”: Terima kasih (Thank you), Maafkan aku (I’m sorry), Aku sayang kamu (I love you).
6. dsb.

Hal-hal yang sebaiknya jangan dilakukan

1. Jangan pasang wajah garang agar ditakuti orang
2. Jangan bergunjing dan menyebarkan aib orang
3. Jangan merasa diri paling benar dan memaksakan kehendak
4. Jangan menutup diri dan tak peduli
5. Kaum pria batalkan bertamu kalau suami pemilik rumah sedang tidak ada. Demikian pula kaum wanita.batalkan bertamu kalau isteri pemilik rumah sedang tidak ada.
6. dsb.
Intinya: Jaga ucapan dan perilaku serta tampilkan perangai terpuji.dengan selalu membina silaturahmi. Semuanya itu mencerminkan ahlakul karimah dan hati yang suci.

MASYARAKAT DZIKRULLAH

Salah satu tujuan sosial Thariqatullah adalah mengembangkan sebuah masyarakat madani (civil society) yang warga-warganya sangat rukun dan kuat silaturahminya, mantap keimanannya, hidupnya taat syari’at, kreatif dan produktif, tegas dalam prinsip tetapi luwes penerapannya, pencinta ilmu dan mau belajar, senang beribadah dan beramal saleh serta senantiasa menggalakkan dzikrullah dan amalan-amalan nawafil lainnya. Masyarakat madani ini kita namakan Masyarakat Dzikrullah yang karakteristiknya digambarkan dalam Al-Qur’an antara lain sebagai berikut:
Orang Muslim cinta sekali kepada Allah (S.2: 165), mereka senantiasa bersama Allah dan tak pernah bercerai-cerai dari padaNya (S.2: 194), dan mereka beriman kepada semua nabi (S.2: 136). Mereka adalah orang-orang yang setia pada janji (S.2: 177; S.5: 1), bantu membantu dalam kebajikan dan bukan dalam kejahatan (S.5: 2), bersikap adil walaupun harus merugikan diri sendiri dan golongannya (S.4: 135), saling menghormati dengan sesama muslim (S.49: 11-12), bersikap jujur sekalipun terhadap lawan (S.5: 2), bersatu (3: 102), mendapat rizki yang baik (S.2: 172), dan hidup secara wajar (S.2: 62; S.3: 112), terhadap kafir sikapnya tegas dan keras, sebaliknya dengan sesama muslim saling mengasihi (S.48: 29).
Masyarakat madani ini dengan ringkas digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai masyarakat yang kokoh solidaritasnya.
“Kaum muslimin seperti satu tubuh dalam kasih sayang dan perasaan satu sama lain, sehingga jika ada bagian tubuh tertentu tidak enak, maka bagian-bagian lain turut merasakannya dengan demam dan tidak dapat tidur”.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa Masyarakat Dzikrullah adalah masyarakat yang satu sama lain dan sarat kasih sayang, memiliki loyalitas kuat, derajat keakraban mendalam, terhormat, bersikap lugas dan berprestasi tinggi. Hal ini hanya mungkin terjadi karena warga masyarakatnya diikat dan dipersatukan hatinya oleh keimanan yang mantap, sehingga kokohnya hubungan antara sesama (hablun minannas) benar-benar dilandasi oleh mantapnya hubungan dengan Tuhan (hablun minallah), dan sebaliknya pelaksanaan hablun minallah hanya mungkin berlangsung sempurna dalam kondisi hablun minannas yang tenteram dan kondusif. Layak sekali bila masyarakat yang berpredikat Baldatun tayibbatun warabbun ghafur itu menjadi idaman dan tujuan sosial para pengamal dzikrullah. Mudahkah itu?

Betapa sulitnya menyatukan Hati

Allah SWT sendiri menunjukkan betapa sulitnya memadukan (hati) kaum mukminin satu sama lain seperti terungkap dalam S. al-Anfaal (8): 63.

“(Dialah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Ayat itu memberikan isyarat bahwa keberhasilan mengembangkan masyarakat dzikrullah tidak cukup dengan semata-mata mengandalkan ilmu dan teknologi tinggi, dukungan finansial yang besar, kemahiran berdakwah yang memukau dan upaya-upaya manusia lainnya. Hal-hal itu tentu saja perlu, tetapi ternyata tidak cukup. Dalam hal ini campur-tangan Tuhan mutlak diperlukan dalam mengembangkan masyarakat muslim yang pada hakikatnya adalah menyatukan hati kaum muslimin sendiri. Tanpa rahmat Tuhan ini upaya pengembangan masyarakat dzikrullah hanya sampai pada taraf kata-kata belaka, dan tidak pernah menjadi realita.

Sehubungan dengan itu tampaknya sudah saatnya para pengamal dzikrullah dengan penuh kesadaran melakukan upaya intensifying ibadah, seperti memantapkan niat, berdoa memohon petunjukNya dan mendoakan masyarakat sekitarnya, meningkatkan kekhusyu’an shalat wajib dan sunnah (istikharah, tahajud), bersedekah dan ibadah-ibadah lainnya sebelum, sewaktu dan sesudah melaksanakan tugas kemasyarakatan.

Pembinaan Kerukunan Masyarakat Muslim

Sekalipun membina kerukunan masyarakat muslim/madani itu tidak mudah, tetapi Rasulullah SAW secara rinci dan praktis telah mengungkapkan hal-hal benar-benar dapat dilakukan dalam membina kerukunan masyarakat madani:

“Seorang muslim harus menolong saudara seagamanya dari kekeliruan-kekeliruannya, mengasihinya dalam kesulitan-kesulitannya, menjaga rahasianya, mengabaikan kesalahan-kesalahannya, menerima maafnya, membelanya dari orang-orang jahat dan pencari-pencari kesalahan, bertindak sebagai penasihat baginya, dan memelihara hubungan persahabatan dengannya,. Jika saudara seagamanya itu sakit, ia harus menjenguknya. Ia harus menerima pemberiannya, dan membalas pemberiannya itu secara timbal balik, mengucapkan terima kasih untuk kebaikan-kebaikannya, bicara baik dengannya dan bersikap ramah terhadap teman-temannya, tidak meninggalkannya dalam kesulitan, mengharapkan baginya apa yang diharapkan bagi dirinya sendiri, dan tidak memperlakukannya seperti yang ia tidak suka orang lain perlakukan terhadap dirinya sendiri”.

Membiasakan diri melakukan hal-hal nyata dan penerapannya pun tak terlalu sulit seperti diungkapkan hadits tersebut merupakan langkah-langkah praktis menuju Masyarakat Dzikrullah yang dicita-citakan. Insya Allah.

STRATEGI PEMBINAAN KERUKUNAN MASYARAKAT DZIKRULLAH

Secara keseluruhan Strategi Pembinaan Kerukunan Masyarakat Dzikrullah meliputi: Landasan, Sikap Dasar, Tujuan, Langkah-langkah, dan Semboyan.

Landasan: Ikatan ruhani yang kuat bersumber dari kesamaan pembimbing (Mursyid), metode (Thariqatullah), washilah (Nuurun alan nuurin), amalan (Dzikrullah) dan motivasi (Ilahi anta maqsyudi wa ridhaka mathlubi).

Tujuan : (1) Mengembangkan dan meneladankan ahlak terpuji (akhlaqul karimah) berdasarkan pemahaman Islam secara keseluruhan (kaffah); (3) Menjaga persaudaran muslim (Ukhuwah Islamiyah) atas dasar Hablun minallah dan Hablun minannas dengan tidak melanggar adat istiadat, etika sosial, hukum negara, dan hukum syara’; (4) Mewujudkan masyarakat dzikrullah yang berpredikat Baldatun thayibbatun wa rabbun ghafur; (5) Menjaga kemuliaan Guru (Al Mursyid) dan keluarganya.

Sikap dasar: (1) Hadap dan setia; (2) Pengabdian yang tulus; (3) Berlomba-lomba dalam kebajikan; (4) Tabah dan gigih; (5) Berkarya dan Berdoa.

Langkah-langkah: (1) Mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan terdekat, dan masyarakat sekitar; (2) Menyadari potensi pribadi dan lingkungan, kemudian merealisasikannya; (3) Menghargai prestasi dan menjaga kehormatan diri dan orang lain; (4) Menjalin silaturahmi dengan saling kunjung dalam saat kegembiraan dan kedukaan; (5) Memberi bantuan sejauh kemampuan; (6) Menampilkan budi pekerti terpuji; (7) Mengajak masyarakat mengamalkan dzikrullah sebagai inti ibadah.

Semboyan: (1) Berprinsip sebagai pengabdi; (2). Berabdi sebagai pejuang; (3) Berjuang sebagai prajurit; (4) Berkarya sebagai pemilik; (5) Beribadah sebagai Nabi beribadah.

RANGKUMAN

Bagai sebuah batu jatuh di permukaan telaga luas yang tenang. Awalnya hanyalah satu titik jatuh yang menimbulkan riak gelombang yang makin lama makin luas dan akhirnya menyentuh tepi telaga. Demikian pula pembinaan kerukunan masyarakat dzikrullah sebaiknya diawali dengan pembenahan ahlak diri pribadi serta memperkuat jalinan silaturahmi dan kerukunan hubungan antar pribadi dalam kelompok sendiri, lalu meluas ke masyarakat sekitarnya dan akhirnya sampai ke lingkungan masyarakat umum yang lebih luas.

Dakwah adalah alatnya, baik dakwah lisan maupun tindakan, sambil meneladankan ahlak terpuji dalam hidup bermasyarakat. Satu hal yang perlu diingat: ikatan sosial terkadang erat (rukun), terkadang longgar (kurang rukun), bahkan terputus (sengketa). Oleh karena itu kerukunan harus dipertahankan dengan program-program yang melibatkan semua pihak, disamping terus menumbuhkan ahlak terpuji dan silaturahmi serta saling menjaga etiket pergaulan.

Kemudian apakah tujuan jangka panjang? Masyarakat madani yang rukun, lembut, berprestasi, terhormat, berjaya dan berdzikrullah adalah tujuan sosial para pengamal thariqatullah! Menyadari betapa sulit mewujudkannya, tentu saja dituntut upaya serius dan kerja keras dengan memanfaatkan segala kemampuan, semangat, daya dan sarana serta doa khusyuk untuk menjolok-turun rahmat Allah dan syafaat Rasulullah berupa ikatan kasih-sayang yang mempersatukan hati seluruh kaum beriman. Itulah jihad sosial-spiritual para pengamal thariqat Naqsyabandiah Khalidyah: Mewujudkan Masyarakat Dzikrullah berpredikat Baldatun thayibbatun wa rabbun ghafur. Insya Allah

%d blogger menyukai ini: