Pengabdi Teguh dan Tulus

Kompetensi dan Pribadi Kompeten

Saat ini di lingkungan industri, perusahaan dan organisasi masalah kompetensi menjadi tema yang paling banyak dibahas, karena makin disadari perlunya pribadi-pribadi berkemampuan tinggi yang dianggap merupakan unsur penting dalam meraih kesuksesan di berbagai bidang. Pribadi yang kompeten selalu produktif dan memberi kemanfaatan yang besar bagi dirinya dan lingkungannya serta menebarkannya ke sekitarnya. Mereka adalah profesional dalam bidangnya dan diharapkan akan menjadi pemimpin tangguh menghadapi berbagai kendala hidup serta menjadi teladan orang banyak menuju kehidupan yang lebih baik. Lebih-lebih saat persaingan makin tajam seperti sekarang masalah kompetensi menjadi mencuat. Pribadi dengan kompetensi tinggi memiliki etos kerja, sikap dan cara kerja yang baik, senang memberikan pelayanan prima, menyebarkan hal-hal bermanfaat ke sekitarnya serta selalu berusaha meningkatkan kualitas kerjanya sehingga benar-benar menjadi pakar dalam bidang pekerjaanya.

Etos Kerja

Ada beberapa asas yang berkaitan dengan etos kerja seorang pribadi dengan kompetensi tinggi, a.l. :

Asas Tindakan. Pribadi dengan kompetensi tinggi tak pernah menunda-nunda pekerjaan. Mottonya “Lakukan sekarang. Jangan tunda-tunda”. Mereka menyadari bahwa memulai pekerjaan apa pun tidak mudah, oleh karena itu mereka tak pernah menunggu waktu yang tepat, tetapi selalu mengatakan “Inilah saatnya yang terbaik melakukannya, bukan nanti atau besok“.Orang-orang sukses adalah mereka yang menghargai waktu dengan bertindak cepat merebut peluang dan tak pernah menunda kesempatan. Para anshar Baitul Amin diharapkan dapat menerapkan asas ini.

Asas Antusias. Mencurahkan segenap daya dan upaya terhadap setiap kegiatan yang sedang dilakukan. Antusiasme memancarkan semangat dan semangat akan mempercepat diraihnya hal-hal yang besar. Antusias sebenarnya merupakan sikap mental dan cara hidup yang terpancar dari wajah, sinar mata, cara bicara dan gerak gerik yang penuh semangat. Me ngapa semangat ? Karena kita mencintai pekerjaan kita dan pekerjaan itu bermakna bagi kita. Antusiasme sulit untuk diajarkan tetapi dapat diteladankan. Seorang kompeten yang antusias akan menarik orang-orang lain untuk bersemangat. Dan anshar Baitul Amin memiliki gairah dan semangat kerja ini.

Asas Disiplin Diri: melakukan apa seharusnya dilakukan, terlepas dari senang atau tidaknya kita melakukan pekerjaan itu. Disiplin diri merupakan kebiasaan yang dimulai sejak kecil, walaupun sebenarnya dapat juga dilatih dengan jalan melakukan hal-hal tertentu terus menerus untuk waktu yang lama. Sifat pribadi kompeten adalah disiplin. Dan para anshar Baitul Amin sudah terkenal tinggi disiplin kerjanya.

Asas Kegigihan. Melakukan sesuatu tugas terus menerus sampai tuntas sekalipun mengalami rintangan dan penolakan. Persistensi adalah ketekunan dan kegigihan serta sikap pantang menyerah. Anda kenal Kolonel Sanders ? Ia memiliki resep ayam goreng istimewa yang ia tawarkan ke setiap restoran dan mengalami penolakan 1008 kali. Ia baru berhasil waktu ia menawarkan ke 1009 kalinya. Bayangkan andaikata ia berhenti pada penolakan ke 1008 kali itu pasti kita semua tidak akan merasakan nikmatnya ayam goreng Kentucky. Dan para anshar Baitul Amin memiliki kegigihan seperti Kolonel Sanders

Sikap kerja.

Pribadi kompeten selalu bersikap positif terhadap pekerjaan dan tugas-tugasnya. Ia menyadari pentingnya pekerjaannya dalam keseluruhan kegiatan organisasi. Ia mencintai pekerjaannya dan bangga atas pekerjan yang diembannya. Ia bekerja tidak hanya untuk uang, tetapi sadar akan misi kerjanya. Seorang petugas kebersihan yang kompeten, misalnya tidak hanya melakukan tugas membersihkan lingkungan semata-mata, tetapi ia sendiri menyukai kebersihan dan menyadari betapa kotornya lingkungan itu apabila ia tidak melakukan tugasnya dengan baik. Bertanggungjawab terhadap tugas adalah sikap kerja pribadi kompeten. Dan para anshar Baitul Amin memiliki misi dan visi membantu tujuan kesurauan yaitu menegakkan panji-panji kebesaran Kalimatullahil Hyial Ulya.

Perbaikan kerja

Pribadi kompeten senantiasa berupaya secara sengaja meningkatkan kemampuan, ketrampilan dan cara kerjanya menjadi makin baik. Ia bekerja sebaik-baiknya melatih diri untuk menguasai (mastering) bidang kerjanya, sehingga tanpa terasa ia menjadi pakar dalam bidang itu. Banyak diantara para anshar Baitul Amin yang menjadi pakar dalam bidangnya setara dengan pakar-pakar berpengalaman lulusan perguruan tinggi.

Pelayanan

Pelayanan atau service adalah usaha untuk membantu, memfasilitasi dan mempermudah terlaksananya suatu tujuan. Seorang tamu yang ingin bertemu petugas pengobatan misalnya, ditunjukkan dengan santun dan diantar sampai bertemu dengan petugas yang ingin dijumpainya. Para anshar Baitul Amin yang kompeten senang memberikan pelayanan kepada siapa pun dengan sebaik-baiknya sebagai wujud dari amal shaleh. Tentu hal ini dilakukan dengan cara yang santun dan wajah yang jernih, karena sadar betapa besar pengaruh keramah-tamahan pada citra surau dan warganya.

Menyebarkan hal-hal bermanfaat

Pribadi kompeten selalu ingin berbagi pengalaman positif dengan orang-orang sekitarnya. Kalau mereka mendapatkan hal-hal bermanfaat, mereka tak “pelit” untuk berbagi dengan orang-orang lain. Di lingkungan surau kita hal ini termasuk dakwah yakni menyampaikan “berita baik” mengenai kemuliaan Dzikrullah. Dan para anshar Baitul Amin sebenarnya mengemban juga fungsi da’i thariqatullah disamping tugas-tugas yang ditentukan.

Itulah beberapa karakteristik pribadi kompeten yang bila berhasil diwujudkan akan sangat baik dampaknya pada citra surau dan warga surau serta kegiatan-kegiatan peribadahan surau kita. Cukupkah para anshar Baitul Amin han ya dengan memiliki kompetensi tinggi dapat berfungsi sebagai pengabdi yang teguh dan tulus? Jawabannya: Tidak. Kompetensi dan karakter ibarat dua muka dari sebuah mata uang logam. Artinya kompetensi dan karakter harus sama-sama dikembangkan. Karakter yang baik tanpa kompetensi tinggi menggambarkan orang saleh tetapi kurang berdaya dan berjaya. Sebaliknya pribadi dengan kompetensi tinggi tetapi karakternya buruk adalah orang pandai dengan moral buruk. Orang seperti itu bisa menjadi kasar dan arogan. Pengabdi yang teguh dan tulus memiliki kompetensi yang tinggi dan karakter terpuji.

Karakter Pengabdi yang tulus

Karakter adalah aspek kepribadian dimana kita dapat memberikan penilaian baik dan buruk mengenai moral seseorang. Karakter berkaitan dengan penilaian baik-buruknya tingkah laku seseorang yang didasari oleh bermacam-macam nilai sosial-budaya sebagai tolok ukur penilaian. Misalnya prestasi (kerja atau akademik), kebahagiaan, kemanfataan, kebebasan pribadi, aktualisasi potensi dan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Agama Islam memasukkan karakter pada Akhlak yang meliputi pribadi yang berakhlak, tipe-tipe akhlak manusia, tolok ukur akhlak, proses pendidikan akhlak, sifat-sifat dan perbuatan akhlaki. Dan tolok ukur akhlak dalam ajaran Islam adalah sejauhmana seseorang mau menerima risalah Islam yang dibawa Rasulullah saw.

S. Mujtaba dalam bukunya “73 Golongan Sesat & Selamat: Uraian Karakter-karakter Manusia di dalam Al Qur’an” menyebutkan 38 golongan selamat dan 35 golongan zalim berdasarkan baik dan buruknya akhlak mereka. Para anshar yang benar-benar mengabdi dengan tulus dan serius termasuk dalam bermacam-mcam karakter kebaikan, seperti Ansharullah (pembela Agama Allah), Zakirunallah (orang-orang yang selalu ingat kepada Allah), Muhsinun (orang-orang yang berbuat baik), dan sebagainya. Tetapi yang jelas Rasulullah saw memasukkannya kedalam tiga dari 7 golongan yang mendapat lindungan Allah SWT pada Hari Kiamat dimana tak ada perlindungan lainnya selain lindunganNya. Dalam hal ini para anshar termasuk “orang-orang yang hatinya selalu terkait pada mesjid-mesjid” dan “anak-anak muda usia yang tumbuh dan beribadah kepada Allah” dan “orang-orang yang berdzikir di tempat sunyi dan basah wajahnya dengan air mata”. Alhamdulillah

Gambaran umum mengenai Akhlak

Berbicara mengenai karakter sebenarnya berbicara mengenai akhlak. Dan akhlak adalah pilar utama agama Islam disamping akidah dan syari’ah. Demikian pentingnya akhlak ini sehingga dikatakan bahwa misi utama Rasulullah saw adalah menyempurnakan akhlak manusia.“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak” ujar beliau. Beliau sendiri adalah teladan sempurna bagi seluruh manusia (Uswatun Hasanah) dan dimasyhurkan memiliki “akhlak al-Qur’an serta mendapat predikat “Rahmatan lil ‘Alamin” (Memancarkan rahmat bagi seluruh universe). Dan Allah swt memberikan pujian tinggi kepada beliau:“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad ) memiliki akhlak yang tinggi” (QS. Al-Qalam/68: 4).

Akhlak adalah kekayaan batin manusia yang membedakannya dari mahluk-mahluk lain, terutama hewan. Melalui akhlaknya manusia dapat dinilai baik atau buruk, dan hanya manusia pula yang dituntut berakhlak baik dan mencegah diri dari akhlak yang buruk. Akhlak menunjukkan apa yang sebaiknya kita lakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Dalam ajaran Islam, akhlak sangat luas cakupannya dan meliputi seluruh kegiatan hidup manusia yang meliputi: a) Akhlak terhadap Allah dan RasulNya, b) Akhlak terhadap sesama manusia, c) Akhlak terhadap diri sendiri, d) Akhlak terhadap sesama makhluk. Akhlak pun terbagi pula atas Akhlak terpuji (Akhlaq al Mahmudah) dan Akhlak tercela (Akhlaq al Mazmummah). Contoh akhlak terpuji adalah: Jernih muka (Aniesatun), Jujur (Al Amaanah), P emaaf (Al ‘Afwu), Kuat mental (‘Izzatun Nafsi), dan Berani (Al Syaja’ah). Sedangkan akhlak tercela contohnya adalah: Hianat (Al Khinayah), Cari muka (Al Riyaa), Pendendam (Al Hiqdu), Nyolong (Al Sirqah) dan Bunuh diri (Al Intihaar). Dan baik buruknya akhlak seseorang dapat menimbulkan dampak baik atau buruk pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitarnya.

Dalam rangka peningkatan kualitas pengabdian para anshar pembahasan ini dibatasi pada tinjauan psikologi mengenai kompetensi dan karakter dalam artian mengajukan asas-asas pengembangan karakter terpuji dan kompetensi tinggi.

Akhlak Anshariyah

Anshar di surau (Pos, IOP) mana pun ia bertugas adalah ujung tombak tempat peramalan. Artinya, orang-orang yang masuk ke wilayah surau biasanya akan lebih sering berjumpa dulu dengan para anshar. Bagaimana persepsi orang-orang terhadap tempat wirid dan aktivitas-aktivitasnya, bahkan peribadatannya, banyak ditentukan oleh kesan pertama saat mereka berjumpa dengan para anshar. Itulah yang senantiasa harus disadari oleh para anshar. Ada beberapa hal praktis yang perlu diupayakan dalam menimbulkan kesan pertama yang baik

a). Penampilan, dalam hal ini cara berpakaian dan kerapihannya. Pakaian tidak usah baru, tetapi rapi dan bersih. Demikian pula rambut perlu disir rapi dan badanpun jangan menimbulkan “aroma yang mengganggu lingkungan”. An nahaafah adalah akhlak yang berkaitan dengan kebersihan badan, tempat tinggal, kebersihan rambut, kuku, mulut, hidung, telinga dan seluruh tubuh. Betapa akhlak islami memekankan kebersihan dan kerapihan.
b). Wajah jernih. Wajah jernih dan berseri serta enak dipandang (Aniesatun). tidak ada hubungannya dengan ketampanan dan kecantikan seseorang. Apalagi kalau dihiasi dengan senyuman tulus sebagai hiasan wajah dan cerminan hati yang lapang. Pribadi demikian pasti lebih disenangi (al aliefah) ketimbang yang judes uring-uringan (al ghadhab).
c). Sifat-sifat pribadi. Sifat jujur dan dapat dipercaya (al amaanah), baik hati (al khairu), dan berbuat kebajikan (al ihsaan), sabar (ash shabru), berani (asy syaja’ah) dan berjiwa teguh (‘izzatun nafsi), menahan diri dari berbuat maksiat (al hilmu) dan merasa cukup dengan apa yang ada (qana’ah) adalah antara lain sifat-sifat pribadi yang perlu dimiliki para anshar.
d). Sifat-sifat sosial. Menghormati tamu (adh dhiyaafah), kerjasama dan saling menolong (at ta’aawun), membina persaudaraan (al ikhaa’u), mudah memberi maaf (al khufraan). Pribadi demikian pasti tidak sulit menjalin silaturahmi dengan siapa pun.
e). Sifat-sifat spiritual. Puncak sifat-sifat ruhaniah adalah cinta kepada Allah dan RasulNya serta para ulama pewaris Nabi. Pengembangan sifat-sifat ini menjadi kajian dan lahan Thariqatullah.

Pengembangan Akhlakul Karimah

Menurut Imam Al Ghazali, pengembangan pribadi pada hakikatnya adalah perbaikan ahlak, dalam artian menumbuh-kembangkan sifat-sifat terpuji (mahmudah) dan sekaligus menghilangkan sifat-sifat tercela (mazmumah) pada diri seseorang. Ahlak manusia benar-benar dapat diperbaiki, bahkan sangat dianjurkan sesuai sabda Rasulullah saw “Upayakan ahlak kalian menjadi baik” (Hassinuu akhlaqakum), sekalipun harus diakui bahwa usaha ini tidak mudah sehubungan dengan perbedaan taraf kesediaan setiap orang untuk memperbaiki diri. Al Ghazali menaruh perhatian besar pada masalah ahlak serta mengemukakan berbagai cara perbaikan ahlak. Metode peningkatan ahlak yang beliau ungkapkan dalam berbagai buku beliau, dapat dikelompokkan atas tiga ragam metode yang berkaitan satu dengan lainnya yang oleh penulis makalah ini dinamakan:

a. Metode Taat Syari’at. Metode ini berupa pembenahan diri, yakni membiasakan diri dalam hidup sehari-ha ri untuk berusaha semampunya melakukan kebajikan dan hal-hal bermanfaat sesuai dengan ketentuan syari’at, aturan-aturabn negara, dan norma-norma kehidupan bermasyarakat. Disamping itu berusaha untuk menjauhi hal-hal yang dilarang syara’ dan aturan-aturan yang berlaku. Metode ini sederhana dan alami yang dapat dilakukan oleh siapa saja dalam kehidupan sehari-hari.

b. Metode Pengembangan Diri. Metode yang bercorak psiko-edukatif ini didasari oleh kesadaran atas kekuatan dan kelemahan diri yang kemudian melahirkan keinginan untuk meningkatkan sifat-sufat baik dan menghilangkan sifat-sifat buruk. Dalam pelaksanaannya dilakukan pula proses pembiasaan (conditioning) seperti pada “Metode Taat Syari’at” ditambah dengan upaya untuk meneladani perbuatan dari orang-orang lain yang dikagumi. Membiasakan diri dengan cara hidup seperti ini kalau dilakukan secara konsisten akan berkembang tanpa terasa kebiasaan-kebiasaan dan sifat-sifat terpuji yang terungkap dalam kehidupan pribadi dan dalam kehidupan bermasyarakat.

c. Metode Kesufian. Metode ini bercorak spiritual-religius dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas pribadi mendekati citra insan ideal (kamil). Pelatihan disiplin diri ini menurut Al Ghazali dilakukan melalui dua jalan yakni al-mujaahadah dan al-riyaadhah. Al Mujaahadah adalah usaha serius untuk menghilangkan segala hambatan pribadi (harta, kemegahan, taklid, maksiat). Al-riyaadhah adalah latihan mendekatkan diri kepada Tuhan dengan jalan mengintensifkan kualitas ibadah. Kegiatan sufistik ini berlangsung dibawah bimbingan seorang Guru yang benar-benar berkualitas dalam hal ilmu, kemampuan dan wewenangnya sebagai Mursyid.

Diantara ketiga metode tersebut, metode kesufian dianggap tertinggi oleh Al Ghazali dalam proses peningkatan derajat keruhanian, khususnya dalam meraih ahlak terpuji. Untuk keperluan pendidikan dan pelatihan pengembangan ahlak terpuji (akhlakul karimah) ketiga metode yang diungkapkan Al Ghazali dapat dimodifikasi menjadi empat cara mengembangkan Akhlakul Karimah, yaitu:

– Pembiasaan: membiasakan diri berbuat kebaikan dan menghindari keburukan. Proses pembiasaan (conditioning) akan menjelmakan kebiasaan (habit) dan kebisaan (ability), dan akhirnya akan menjadi terperangai dalam sifat-sifat pribadi (personal traits).

– Pemahaman, Penghayatan dan Penerapan: lebih dahulu mencoba memahami arti dari suatu perilaku yang baik, kemudian mendalaminya dan menjiwainya, lalu secara sengaja menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Cara ini adalah cara yang lazim digunakan dalam pendidikan orang dewasa.

– Peneladanan: menyontoh tokoh-tokoh yang dikagumi (kebaikannya) untuk mengambil sikap-sikap atau nilai-nilai yang dikaguminya. Proses ini disebut proses identifikasi, yang syarat utamanya adalah harus mengenal tokoh identifikasinya. Dalam ilmu akhlak banyak sekali ditampilkan contoh-contoh perilaku terpuji dari tokoh-tokoh tertentu, dengan harapan dapat menimbulkan motifasi untuk mencontoh dan meneladaninya. Teladan yang paling baik dalam Islam adalah pribadi Nabi Muhammad SAW yang dimasyhurkan sebagai “Uswatun Hasanah” yakni suri teladan terbaik bagi manusia.

– Ibadah: ibadah dalam artian khusus (misalnya shalat, puasa, dsb) dan ibadah dalam artian umum (berbuat kebajikan karena Allah SWT) secara sadar atau tidak sadar akan mengembangkan akhlak yang baik dan menghilangkan/mengurangi akhlak yang buruk. Dan inti dari ibadah adalah Dzikrullah.
“Sesungguhnya shalat itu mencegah (manusia) dari perbuatan keji dan buruk; dan sesungguhnya ingat kepada Allah SWT itu merupakan (kekuatan) yang paling akbar”. (QS. al-Ankabut/29 : 45).

“Abu Darda’ meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat: ‘Maukah kalia n aku kabarkan tentang sebaik-baiknya amalan yang amat suci disisi Allah SWT, yang meninggikan derajatmu ke tingkat yang tertinggi, yang lebih mulia dari pada menafkahkan emas dan perak (di jalan Allah SWT), yang lebih utama dari pada menghadapi musuh di tengah-tengah medan jihad di mana kalian tanggalkan leher musuh atau mereka tanggalkan leher kalian?’. Para sahabat menjawab: ‘Mau ya Rasulullah SAW. ‘Apakah itu?’ sabda Rasulullah SAW: “Dzikrullah”.

Itulah sekelumit contoh betapa ibadah dapat meningkatkan derajat akhlak manusia.

RANGKUMAN

Sekalipun masanya berbeda lebih dari 1400 tahun, kaum Anshar pada jaman Rasulullah saw dengan kelompok Anshar masa kemursyidan saat ini misinya tetap sama yaitu membantu, mendukung, mengurus, mempermudah, memfasilitasi tegak panji-panji kebesaran Kalimah Allah dan mengembangkan akhlakul karimah. Anshar masa kini adalah avant garde atau ujung tombak tempat-tempat peramalan dzikrullah. Sebuah perjuangan memerlukan dukungan semua pihak, terutama mereka yang memiliki komitmen kuat dan berkemampuan tinggi serta berakhlak mulia, antara lain para anshar yang tinggi kompetensi dan karakternya.

Apa yang terjadi kalau para anshar di surau-surau kita kemampuan dan ketrampilan kerjanya rendah, malas, cepat tersinggung dan arogan? Sebaliknya apa jadinya kalau para anshar ini menunjukkan kemampuan dan ketrampilan tinggi, bertanggungjawab atas tugas-tugas yang mereka emban, jujur, ramah dan amanah sifatnya, selalu berpikir positif, dan mampu memberikan pelayan optimal pada para jamaah dzikrullah? Tentu besar sekali perbedaannya pada perkembangan surau kita..

Untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan serta mengembangkan kualitas kepribadian para anshar, kompetensi dan karakter harus sama-sama dikembangkan. Pengembangan kompetensi dan karakter yang dilakukan dengan penuh kesungguhan dalam arahan yang tepat dan lingkungan kondusif diharapkan akan menjelmakan para anshar sebagai para pengabdi yang teguh dan tulus. Mereka Insya Allah akan berperan dalam mendukung misi kesurauan kita. Wallahu ‘alam bish shawab

%d blogger menyukai ini: